Friday, September 14, 2018

Nilai Berita dalam Jurnalistik

Nilai Berita dalam Jurnalistik
DI posting jenis-jenis berita, kita sudah mengetahui berita (news) berawal dari adanya peristiwa. Peristiwa yang dilaporkan oleh wartawan itulah yang namanya berita.

Nah, peristiwa yang dijadilaporkan atau diberitakan itu harus memiliki nilai berita (news values).

Tidak semua peristiwa atau kejadian bisa diberitakan. Hanya peristiwa yang bernilai berita yang layak dilaporkan wartawan melalui medianya.

Informasi mengenai lahirnya seorang anak tetangga kita mungkin merupakan sebuah berita yang penting bagi seisi kompleks, namun itu bukan berita yang penting untuk diliput media massa. Tidak banyak orang yang akan tertarik membacanya, kecuali jika misalkan tetangga kita seorang selebritas atau public figure, atau ada yang unik dalam kelahiran tersebut.

Secara ringkas, nilai berita itu meliputi aktual, faktual, penting, dan menarik.

Berikut ini 11 Nilai Berita dalam Jurnalistik yang menjadi patokan apakah sebuah peristiwa itu layak diberitakan atau tidak.

Nilai Berita dalam Jurnalistik

1. Magnitude 

Magnitude artinya besar dan luasnya pengaruh serta pentingnya suatu kejadian bagi masyarakat luas. Contohnya, peristiwa tentang gempa atau kenaikan harga BBM dan tarif listrik.

Sebuah kejadian yang berdampak luas dan harus diketahui masyarakat umum itu bernilai berita, dalam hal ini nilai berita magnitude. Secara harfiyah magnitude artinya besar, luas, dan penting.

2. Proximity

Proximity artinya kedekatan. Kedekatan suatu peristiwa dengan pembaca akan mempengaruhi ketertarikan masyarakat untuk mengetahui atau peduli.

Orang cenderung tertarik bila membaca berita yang peristiwa atau kejadiannya dekat dengan wilayahnya dan juga perasaan emosional berdasarkan ikatan tertentu.

Ada dua macam kedekatan yang menjadikan sebuah kejadian punya nilai berita:

  • Kedekatan Geografis (Fisik) -- jarak kejadian dengan domisili pembaca.
  • Kedekatan Psikologis (Emosional) -- kedekatan ideologis atau bisnis.
3. Timeliness

Aktualitas atau kebaruan, hangat, baru terjadi. Peristiwa yang sudah lama terjadi juga bisa bernilai berita, jika ada hal baru dalam peristiwa itu.

4. Impact

Impact artinya dampak atau pengaruh bagi orang banyak. Sebuah kejadian yang memiliki dampak pada masyarakat luas memiliki nilai berita yang tinggi. Semakin besar dampak tersebut bagi masyarakat, semakin tinggi pula nilai beritanya.

5. Oddity

Oddity yaitu keanehan, sesuatu yang tidak lazim (unusual), atau unik. Peristiwa aneh atau tidak biasa akan mengundang perhatian.

6. Prominence

Prominence artinya ketokohan atau ketenaran. Hal-hal yang menyangkut orang terkenal seperti pejabat negara, artis, selebritas, atau public figure lainnya akan menarik perhatian masyarakat.

Ada ungkapan "Name makes news". Nama membuat berita. Tokoh atau orang terkenal bisa disebut "newsmaker" (pembuat berita). Semakin terkenal sesorang, maka beritanya akan semakin bernilai.

Berita mengenai tindakan seseorang yang dianggap sebagai pahlawan juga memiliki nilai berita tinggi, termasuk orang biasa yan menjadi viral di media sosial.

7. Conflict

Konflik atau pertentangan menarik perhatian pembaca, misalnya bentrokan, perang, tawuran, kerusuhan, dan sejenisnya.

Konflik selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Mulai konflik antar-artis, konflik antar-kelompok, hingga konflik antar-negara.

8. Human Interest

Peristiwa yang menyangkut kemanusiaan atau menyentuh perasaan manusiawi (human touch). Peristiwa atau hal-hal yang mengandung unsur human interest antara lain:

  • Penderitaan -- korban penyiksaan, korban kezhaliman atau ketidakadilan, korban kriminalitas. 
  • Seks -- pornografi, perselingkuhan, pelecehan seksual, asusila.
  • Humor – kejadian lucu atau mengundang tawa.

Demikian Nilai Berita dalam Jurnalistik.*

Jenis – Jenis Berita Jurnalistik

Jenis – Jenis Berita Jurnalistik
BERITA (News) adalah produk utama jurnalistik sebagaimana tergambar dalam pengertian jurnalistik dan sejarah jurnalistik.

Berita dalam jurnalistik banyak jenisnya, mulai dari berita langsung (straight news) hingga berita investigatif.

Berita yang kita baca, dengar, atau lihat di koran, situs berita, televisi, dan radio terdiri dari beragam jenis atau kategori berita dalam dunia jurnalistik, meski intinya sama, yakni informasi aktual tentang peristiwa, situasi, atau perkembangan sesuatu.

Berita dapat disajikan dalam bentuk tulisan (teks), gambar (foto, ilustrasi), suara, ataupun video dan suara.

Berita yang disajikan dalam media cetak (seperti koran dan majalah) dan media siber (internet) biasanya berbentuk tulisan dan foto (gambar).

Berita yang kita dengar di radio berupa suara (audio). Berita yang muncul di televisi biasanya berbentuk video dan audio, kadang disertai grafis.

Jenis-Jenis Berita Jurnalistik

Berikut ini jenis-jenus berita yang dikenal di dunia jurnalistik.

1. Straight News 

Straight News atau berita langsung adalah berita yang ditulis secara ringkas, lugas, apa adanya, dan biasanya berisi informasi tentang peristiwa yang baru saja terjadi atau sedang hangat dibicarakan.

Berita jenis ini sering ditempatkan di halaman depan surat kabar, menjadi berita utama di radio dan televisi, atau menjadi headline dan breaking news di media online.

Contoh berita straight news misalnya tentang gempa, peristiwa politik, aksi demonstrasi, dan kriminalitas.

Jenis berita Straight News dibagi lagi menjadi Hard News, Soft News, dan Opinion News.

2. Hard News

Hard news merupakan bagian dari jenis berita Straight News. Hard news merupakan berita paling update, berkualitas, serta memiliki nilai. Biasanya hard news berisi berita yang bersifat khusus atau mengenai peristiwa yang tidak disangka akan terjadi (tiba – tiba).

Contoh berita hard news misalnya berita tentang meledaknya bom atau terorisme, kebakaran, atau peristiwa politik.

3. Soft News

Soft news juga merupakan bagian dari Straight News. Bedanya dengan hard news adalah soft news menyajikan berita yang sifatnya ringan dan nilai beritanya berada dibawah nilai berita hard news.

Soft news biasanya berupa berita pendukung dari berita utama, atau berita-berita yang tidak bersifat serius dan menegangkan. Berita soft news misalnya berita tentang keramaian di tempat-tempat wisata pada masa liburan atau kelahiran bayi harimau di kebun binatang.

4. Opinion News

Opinion News (berita opini) merupakan berita yang berisi opini atau pendapat tentang suatu peristiwa atau masalah aktual.

Berita Opini biasanya bersumber dari pendapat pengamat atau ahli mengenai isu, masalah, atau peristiwa, serta pernyataan pejabat negara.

Selain pengamat, sumbet opini juga dapat diambil dari pendapat yang diutarakan masyarakat umum. Berita yang berisi pandangan masyarakat awam bisa disebut Vox Populi.

Contoh berita opini misalnya berita berisi komentar pengamat mengenai dampak sebuah kebijakan pemerintah, prediksi pemilu, atau pernyataan presiden dan menteri tentang suatu masalah aktual.

5. Interpretative News

Interpretative News (berita interpretatif) adalah berita yang dikembangkan dari Straight News. Dalam Interpretative News, berita langsung dilengkapi dengan tambahan informasi tambahan, seperti pendapat atau hasil penelitian.

Informasi tambahan tersebut bisa berupa data-data yang terkait, latar belakang peristiwa, atau hasil wawancara dengan pengamat, atau ahli.

Namun pengembangan berita jenis ini lebih menekankan kepada fakta daripada opini. Contoh berita jenis ini misalnya dampak aksi teror.

6. Depth News

Depth news atau berita mendalam menyajikan berita yang berisi ulasan mendalam mengenai suatu peristiwa.

Biasanya berita jenis ini akan lebih menonjolkan informasi mengenai "bagaimana" (how) dan "mengapa" (why) peristiwa ini terjadi --mengapa terjadi, apa penyebabnya, bagaimana prosesnya, bagaimana dampaknya, apa yang harus dilakukan (what next).

Tidak seperti straight news yang ringkas, berita mendalam sering lebih panjang sebab mengungkapkan informasi secara tuntas.

Depth News biasanya disajikan dalam liputan khusus. Contoh berita depth news misalnya tentang hilangnya seorang anak yang ternyata disembunyikan oleh ibu angkatnya sendiri.

7. Investigation News

Investigation News atau Berita Investigasi merupakan berita yang ditulis berdasarkan hasil penyelidikan yang secara khusus dilakukan wartawan pada suatu peristiwa.

Biasanya, berita investigasi berisi ulasan dengan tujuan membongkar tindakan penyelewengan yang merugikan kepentingan publik, membongkar suatu jaringan kriminal, atau mengungkap sebuah kasus yang penuh misteri.

Investigation news berupaya untuk mengungkapkan hal-hal tersembunyi di balik suatu kejadian, sehingga seringkali dalam melakukan penelusuran informasi dan penylidikan untuk berita ini, jurnalis harus bertindak seperti intel dan bisa jadi mempertaruhkan nyawanya.

Contoh berita investigation news misalnya berita mengenai pembakaran hutan yang ternyata di dalangi perusahaan – perusahaan besar atau kasus korupsi para anggota dewan yang ternyata direstui kepala daerah yang juga sama-sama korup.

8. Comprehensive News

Comprehensive news merupakan berita yang berisi laporan mengenai fakta dari suatu peristiwa yang ditinjau secara menyeluruh.

Tidak seperti berita langsung yang biasanya merupakan serpihan fakta perhari dan tidak memperhatikan keterkaitan berita tersebut dengan berita lain; berita komprehensif meninjau fakta dari berbagai aspek atau sudut pandang.

Berita komprehensif berusaha menggabungkan berbagai serpihan fakta tersebut menjadi suatu bangunan cerita peristiwa dengan benang merah yang terlihat jelas.

Jenis Berita Komprehensif bersifat utuh dan menyeluruh. Contoh berita komprehensif misalnya berita mengenai terorisme di Indonesia, penyebarannya, tujuannya, dan segala aspek yang menyangkut di dalamnya.

Jenis – Jenis Berita Jurnalistik

Jenis – Jenis Berita Jurnalistik

Apa pun jenis berita yang ditulis wartawan tetap mengandung unsur 5W + 1H:

  1. What (apa), 
  2. Who (siapa), 
  3. Why (mengapa), 
  4. When (kapan), 
  5. Where (dimana), 
  6. How (bagaimana) 

Demikian ulasan tentang jenis-jenis berita jurnalistik, mula jenis berita straight news, hard news, soft news, opinion news, interpretative news, depth news, investigation news, hingga jenis berita comperehensive news.*

Thursday, September 13, 2018

Jenis-Jenis Jurnalistik

Jenis-Jenis Jurnalistik
DI posting sebelumnya sudah dibahas Sejarah Jurnalistik dan Pengertian Jurnalistik. Kali ini kita bahas jenis-jenis jurnalistik atau macam-macam jurnalisme.

Jenis-Jenis Jurnalistik dari Segi Media

Dari segi saluran atau media publikasi karya jurnalistik, jenis-jenis jurnalistik dibagi menjadi tiga, yakni:
  1. Jurnalistik Cetak
  2. Jurnalistik Elektronik/Jurnalistik Penyiaran
  3. Jurnalistik Online
Jurnalistik Cetak adalah proses jurnalistik dengan media cetak sebagai media publikasinya, yakni suratkabar (koran), tabloid, dan majalah. 

Jurnalistik Elektronik yaitu proses jurnalistik dengan menggunakan radio dan televisi sebagai media publikasi. Jurnalistik elektronik disebut juga jurnalistik penyiaran (broadcast journalism).

Jurnalistik Online adalah proses jurnalistik yang menggunakan wesbite (situs web) sebagai media pubikasi yang dikenal dengan sebutan media online, media daring, media siber, atau media digital. 

Jenis-Jenis Media


Jenis-Jenis Jurnalistik dari Segi Konten

Jenis-Jenis Jurnalistik dari segi konten sangat beragam. Di antaranya sebagai berikut;

1. Citizen Journalism (Jurnalisme Warga)

Citizen Journalism (CJ) adalah aktivitas jurnalistik berupa penyebaran berita atau informasi yang dilakuan oleh warga biasa (bukan wartawan) melalui media massa, termasuk melalui situs pribadi (blog) dan media sosial media seperti Twitter, Facebook, dan Instagram.

Aktivitas jurnalistik warga melalui internet (blog dan media sosial) dikenal juga dengan sebutan Internet Citizen (Netizen) Journalism.

Citizen Journalism juga dikenal dengan nama lain, seperti Participatory Journalism, Open Source Journalism, dan Grassroot Journalism.

2. Yellow Journalism (Jurnalisme Kuning)

Yellow Journalism atau jurnalisme kuning adalah jenis jurnalisme yang berupaya untuk menciptakan kesan-kesan sensasional yang biasanya dilakukan dengan pemburukan makna yang kurang memerhatikan substansi peristiwa untuk membuat banyak pembaca membaca berita tersebut.

Tujuan dari jurnalisme ini adalah untuk meningkatkan trafik atau penjualan.

Jurnalisme Kuning dinilai sebagai jurnalisme yang tidak profesional dan tidak punya etika. Pemberitaan yang bombastis, dengan judul yang menyebabkan munculnya pemaknaan yang cenderung mengarah pada makna-makna yang sensasional membuat jurnalisme ini sangat mudah menarik perhatian orang, walaupun nantinya isinya ternyata tidak seperti yang dikesankan dalam judul.

Dari segi sejarah, istilah jurnalisme kuning diperkirakan muncul pada tahun 1800-an. Jurnalisme kuning pada awalnya terjadi dengan “pertempuran berita utama” dua koran besar di New York, yaitu antara Joseph Pulitzer (New York World), dan William Randolph Hearst (New York Journal).

Pada tahun 1897, istilah jurnalisme kuning kemudian dimunculkan oleh The New York Press. Kata kuning dimunculkan karena warna kedua koran tersebut adalah kuning.

Istilah kuning disebutkan berasal dari berbagai peristiwa tertentu, tidak hanya dari adanya warna kuning pada kedua koran tersebut.

Ada yang menyebut kata kuning digunakan karena harga kedua koran tersebut murah meriah, dalam istilah jurnalisme disebut dengan koran satu sen Ada pula yang mengatakan kata kuning diambil dari nama yellow kid (tokoh dalam sebuah komik di Amerika).

3. Jurnalisme Lher

Jurnalisme Lher mirip jurnalisme kuning. Jurnalisme Lher cenderung menampilkan hal-hal erotis atau pornografi. Oleh karena itu, ada pula yang mengistilahkannya dengan istilah jurnalisme pornografi.

4. Jurnalisme Presisi

Jurnalisme Presisi adalah jurnalisme yang menerapkan ilmu sosial di dalam dunia jurnalistik dan berupaya untuk mencari ketetapan informasi dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial terkait.

Asal-usul jurnalisme dikemukakan Philip Mayer pada 1969-1970 ketika ia menjadi dosen tamu di Russel Sage Foundation, New York.

Sekitar setahun kemudian, tahun 1971, Everertte E. Dennis dari Kansas State University mengajar “The New Journalism” di University of Oregon.

Dennis berbicara tentang apa yang telah dikerjakannya di Detroit. Ia menyebutnya sebagai sebuah awal dari jurnalisme baru (new journalism). Jurnalisme baru tersebut kemudian diberi nama jurnalisme presisi.

Jadi, jurnalisme presisi adalah kegiatan jurnalistik yang menekankan ketetapan (presisi) informasi dengan memakai pendekatan ilmu sosial dalam proses kerjanya.

Hal penting dalam jurnalisme presisi adalah berkaitan dengan data, yaitu:

  • Koleksi data. Data tentu saja harus dicari dan bukan ditunggu.
  • Simpan. Jurnalis bisa membuka data-data lama di dalam file.
  • Mendapatkan kembali data. Alat-alat dalam jurnalisme presisi dapat menolong kita untuk mendapatkannya kembali data yang sudah kita koleksi dan simpan.
  • Analisis. Maksudnya adalah jurnalis presisi akan melakukan pengolahan data, dibandingkan, disamakan, dikurangi, ditambah untuk membuat kesimpulan sebuah berita.
  • Reduksi data. Mengurangi data yang dianggapnya tidak begitu relevan.
  • Mengomunikasikan. Artinya, data-data yang sudah diolah tersebut kemudian ditulis dan dibuat berita di media.


5. Jurnalisme Kepiting

Istilah Jurnalisme dipopulerkan oleh wartawan senior, Rosihan Anwar, merujuk pada sepak terjang pendiri harian Kompas, Jakob Oetama. 

Jakob dinilai piawai dengan how to play sebagai wartawan. Pembaca diajak berputar-putar dulu ketika membaca berita atau opini untuk menyiasati kekuasaan hegemonik Orde Baru. Hal itu dilakukan agar Kompas bisa bertahan atau tidak diberangus.

Jurnalisme kepiting adalah jurnalisme yang juga mementingkan “jalan tengah” (jalan aman) dalam mengangkat isu atau kasus yang berisiko politik tinggi.

Selain kelima jenis jurnalistik di atas, masih banyak jenis-jenis jurnalistik lainnya, antara lain:
  • Peace Journalism (Jurnalisme Damai)
  • War Journalism (Jurnalisme Perang)
  • Jazz Journalism (Jurnalisme Jazz)
  • Adversary Journalism / Adversarial Journalism (Jurnalisme Oposisi)
  • Jurnalisme Partisan
  • Checkbook Journalism
  • Crusade Journalism
  • Advocay Journalism (Jurnalisme Advokasi)
  • Immersion Journalism
  • Journalism of Attachemen
  • Jurnaslistik Sastra
  • Jurnalisme Wisata
  • Jurnalisme Sosial Media
  • Click Bait Journalism (Jurnalisme Umpan Balik)
  • Mobile Journalism (Jurnalisme Seluler)
Demikian Jenis-Jenis Jurnalistik.*

Pengertian Jurnalistik Lengkap secara Bahasa, Istilah, Para Ahli

Pengertian Jurnalistik Lengkap secara Bahasa, Istilah, Para Ahli
Pengertian Jurnalistik Secara Bahasa, Istilah, dan Menurut Para Ahli.

Pengertian Jurnalistik secara umum dan praktis adalah proses pengumpulan, penulisan, penyuntingan, dan publikasi berita (news) melalui media massa.

Praktisi atau orang yang profesinya melakukan aktivitas jurnalistik disebut jurnalis atau wartawan.

Pengertian Jurnalistik secara Etimologis (Bahasa)


Secara etimologis (asal-usul kata), jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan.

Kata dasarnya “jurnal” (journal) artinya laporan atau catatan serta “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day) atau “catatan harian” (diary). Dalam bahasa Belanda, "journalistiek" artinya penyiaran catatan harian.

Kata dasar "jurnal" berasal dari kata "diurna", merujuk pada Acta Diurna (Lihat: Sejarah Jurnalistik).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), junalistik artinya hal-hal yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran.

Kamus Umum Bahasa Indonesia menyebutkan, jurnalistik adalah kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis suratkabar, majalah, atau berkala lainnya.

Menurut Leksikon Kominikasi, pengertian jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting, dan menyebarkan berita dan karangan untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya misalnya radio dan televisi.

Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan, jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.

Pengertian Jurnalistik Secara Istilah


Secara istilah, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang, yakni sebagai
  1. Proses
  2. Teknik
  3. Ilmu
Sebagai proses, jurnalistik adalah aktivitas mencari mengolah, menulis, dan menyebarluaskan berita atau informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan atau jurnalis.

Sebagai teknik, jurnalistik adalah keahlian atau keterampilan (skills) membuat karya jurnalistik, termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan pemberitaan seperti peliputan peristiwa atau reportase dan wawancara.

Sebagai ilmu, jurnalistik adalah bidang kajian atau studi mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi melalui media massa.

Jurnalistik termasuk ilmu terapan yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta dinamika masyarakat itu sendiri.

Jurnalistik juga masuk dalam "rumpun" ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi melalui media massa yang dikenal dengan komunikasi massa (mass communication).

Pengertian Jurnalistik menurut Para Ahli (Pakar): Definisi


Adinegoro: Jurnalistik adalah sebuah kepandaian dalam hal mengarang (menyusun kata) yang tujuan pokoknya adalah untuk memberikan kabar/informasi kepada masyarakat umum secepat mungkin dan tersiar seluas mungkin. Jurnalistik mempelajari seluk beluk penyiaran berita dalam berbagai media pers. (Hukum Komunikasi Jurnalistik, 1984)

Astrid Susanto: Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam mencatata dan melaporankan serta menyebarkan informasi kepada masyarakat umum. Informasi yang dimaksud berkenaan dengan kegiatan sehari-hari. (Komunikasi Massa, 1986).

W. Widjaya: Jurnalistik merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasan; berupa ulasan peritiwa atau kejadian sehari-hari yang aktual dan faktual. Penyiaran berita dilakukan dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Djen Amar: Jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan berita secepat mungkin dan seluas mungkin kepada khalayak. Jurnalistik merupakan usaha memproduksi kata dan gambar untuk dapat mentransfer suatu ide atau gagasan. (Hukum Komunikasi Jurnalistik, 1984).

Edwin Emery: Dalam jurnalistik selalu harus ada unsur kesegaran waktu (timeliness atau aktualitas). Karenanya, jurnalis memiliki dua fungsi utama, yaitu untuk melaporkan berita dan untuk membuat interpretasi serta memberikan pendapat berdasarkan berita yang dilaporkannya.

Erik Hodgins: Jurnalistik merupakan pengiriman informasi, dari suatu tempat ke tempat lain. Pengiriman informasi ini dilakukan dengan benar, seksama, dan cepat dalam rangka membela kebenaran dan keadilan berpikir yang selalu dapat dibuktikan. (Pengantar Jurnalistik, Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik, 2004)

Fraser Bond: Jurnalism ambraces all the forms in which and trough wich the news and moment on the news reach the public. (An introduction to Journalism, 1961).

Jurnalistik mencakup semua bentuk cara/ kegiatan yang dilakukan hingga sebuah ulasan/ berita dapat disampaikan kepada publik.

Leslie Stephen: Jurnalistik merupakan penulisan tentang hal-hal yang penting dan tidak kita ketahui.

Mac Dougall:  Jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta & melaporkan peristiwa.

Roland E. Wolseley: Jurnalistik mencakup beberapa aktivitas, seperti mengumpulkan, menuliskan, menafsirkan, memproses, dan menyebar informasi umum juga pendapat pemerhati dan hiburan umum. Dilakukan secara sistematis dan dapat dipercaya sehingga dapat diterbitkan dalam surat kabar, majalah, atau disiarkan melalui statsiun penyiaran untuk menjangkau masyarakat luas. (Understanding Magazines, 1963)

Spencer Crump: Journalism covers all mankind’s activities, and challenging to the intellect. Journalism encompasses fields ranging from reporting with words and photographs to editing, and from newspaper to television.

Jurnalistik mencakup aktivitas pelaporan menggunakan kata – kata dan atau foto, hingga proses editing – penyajian pada semua media massa, mulai dari surat kabar hingga televisi.

Martin Moenthadi: Jurnalistik atau jurnalisme merupakan pekerjaan kewartawanan untuk mengumpulkan, menulis, mengedit dan menerbitkan berita di dalam surat kabar

Onong U. Effendi: Jurnalistik adalah teknik dalam mengelola berita, mulai dari mendapatkan bahan hingga menyebarkannya kepada masyarakat secara luas. (Ilmu, Teoiri dan Filsafat Komunikasi, 1993)

Kustadi Suhandang: Jurnalistik adalah sebuah seni dan atau keterampilan dalam mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari. Dilakukan secara indah, untuk memenuhi segala kebutuhan hati nurani pembaca. (Pengantar Jurnalistik, Seputar Organisasi, Produk & Kode Etik).

M Ridwan: Jurnalistik adalah suatu kepandaian praktis dalam mengumpulkan, serta mengedit berita yang ditujukan untuk pemberitaan. Baik pemberitaan dalam surat kabar, majalah, atau terbitan terbitan berkala lainnya. Selain bersifat ketrampilan praktis, jurnalistik juga adalah sebuah seni.

Astrid S. Susanto: Jurnalistik merupakan suatu kegiatan catat – mencatat atau laporan yang disebar dan dilakukan sehari – hari.

 Asep Syamsul M. Romli: Jurnalistik merupakan sebuah proses kegiatan dalam mengolah, menulis, dan menyebarluaskan berita dan atau opini melalui media massa. (Jurnalistik Dakwah, 2003).

Demikian Pengertian Jurnalistik lengkap secara bahasa, istilah, dan definisi jurnalistik menurut para ahli.*

Sejarah Jurnalistik

Sejarah Jurnalistik
Sejarah Jurnalistik Dunia

Berbagai literatur tentang Sejarah Jurnalistik menyebutkan, sejarah jurnalistik diawali dengan kemunculan Acta Diurna di kerajaan Romawi Kuno saat Julius Caesar berkuasa. 

Julius Caesar bahkan disebut sebagai Bapak Pers Dunia karena jasanya mengembangkan Acta Diurna menjadi sebuah media informasi bagi rakyatnya.

Acta Diurna artinya "tindakan-tindakan harian". Acta Diurna adalah semacam papan pengumuan atau majalah dinding (mading) yang memuat tindakan anggota senat, peraturan pemerintah kerajaan, berita kelahiran, dan kematian. 

Acta Diurna di tempel di tempat-tempat umum sehingga bisa dibaca oleh umum. 

Para pencari informasi, penulis, atau para pembuat catatan di Acta Diurna disebut Diurnarii. 

Seorang Diurnarii bernama Julius Rusticus dihukum gantung atas tuduhan menyiarkan berita yang belum boleh disiarkan (masih rahasia). 

Dalam sejarah Kerajaan Romawi disebutkan, Raja Imam Agung menyuruh orang untuk membuat catatan tentang segala kejadian penting. Catatan itu dibuat dan digantungkan di serambi rumah raja sebagai pemberitahuan bagi orang yang lewat dan memerlukannya.

Pengumuaman dengan cara demikian kembali dilakukan Julius Caesar dalam masa kejayaannya.Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap
hari diumumkan pada “Acta Diurna”. 

Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perludisampaikan dan diketahui rakyatnya. 

Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang dipusat kota yang disebut “Forum Romanum”
(Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.

Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal, yakni kata “Diurnal”, "Journal", lalu "Journalist" dan "Journalistic" dan "Journalism"

Media Cetak Pertama

Acta Diurna disebut sebagai cikal-bakal koran, suratkabar, atau media cetak (printed media).

Suratkabar atau media cetak seperti kita kenal sekarang diawali dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johan Gutenberg tahun 1450 M. 

Dari mesin cetak itulah muncul suratkabar pertama di dunia tahun 1609 dengan rnama Aviso di Wolfenbuttel lalu Relation di Strasbourg. 

Koran yang berbentuk seperti sekarang ini muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg, Jerman. Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di suratkabar itu adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke benua Amerika pada 1493.

Baru pada 1650 terbit surat kabar harian pertama, Einkommende Zeitung, di Leipzig, Jerman.

Dari mesin cetak itulah istilah “pers" (press) muncul. Secara bahasa, press artinya menekan, tekanan, alat pemeras, mesin pencetak, memeras (fruit), mencetak (records), mendesakkan (o's point), dan menekankan.

Dalam sejarah Islam, cikal-bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat Nabi Nuh dan kaumnya berada di kapal karena banjir besar,  Nabi Nuh mengutus seekor burung keluar kapal untuk mencari tahu keadaan banjir.

Sang burung melihat daun dan ranting pohon zaitun (olijf) yang tampak muncul ke permukaan air sebagai tanda banjir mulai surut. Ranting itu pun dipatuknya dan dibawanya pulang ke kapal. 

Atas datangnya kembali burung itu dengan membawa ranting zaitun. Nabi Nuh mengambil kesimpulan dan mengumumkan kepada kaumnya di kapal bahwa air bah sudah mulai surut.

Yang dilakukan Nabi Nuh dan burung itu kini dikenal sebagai aktivitas jurnalistik, yakni mencari dan menyebarkan informasi atau berita.

Perkembangan Jurnalistik

Sejarah perkembangan jurnalistik dimulai dari munculnya Acta Diurna, lalu ditemukakannya mesin pencetak, dan ditemukannya teknik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang bernama “Phapyrus”.

Pada abad 8 M. (tahun 911 M), di Cina muncul suratkabar pertama dengan nama King Pau atau Tching-pao yang artinya “Kabar dari Istana”. Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara teratur seminggu sekali.

Istilah "suratkabar" (newspaper) sendiri muncul ketika muncul suratkabar pertama yang terbit teratur, bernama Oxford Gazzete, di Inggris tahun 1665 M. Suratkabar berganti nama menjadi London Gazzette. Ketika Henry Muddiman menjadi editornya, untuk pertama sekali ia menggunakan istilah “Newspaper”.

Jurnalistik juga berkembang dari sisi keilmuan pada 1880-1900. Karl Bucher dan Max Weber di Universitas Basel Swiss memperkenalkan cabang baru ilmu persuratkabaran, Zeitungkunde, pada 1884. 

Di Amerika Utara, lahirlah sekolah beken dalam urusan jurnalis, Columbia School of Journalism pada 1912, yang didirikan oleh Joseph Pulitzer.

Jurnalistik Era Modern

Ditemukannya komputer dan internet sejak abad 20 membuat jurnalistik kian berkembang. Ditemukannya radio dan televisi memunculkan jurnalistik penyiaran (broadcast journalism), yakni jurnalistik radio dan televisi.

Internet juga memunculkan jurnalistik generasi baru, yakni jurnalistik online (jurnalisme daring) dan media siber (media online).

Sejarah Jurnalistik di Indonesia

Di Indonesia, istilah “jurnalistik” awalnya dikenal dengan istilah “publisistik”. Publisistik juga digunakan untuk membahas Ilmu Komunikasi.

Tahun 1615, atas perintah Jan Pieterzoon Coen, yang kemudian pada tahun 1619 menjadi Gubernur Jenderal VOC, diterbitkan media “Memories der Nouvelles”, yang ditulis tangan. 

Pada Maret 1688, tiba mesin cetak pertama di Indonesia dari negeri Belanda, yang melahirkan suratkabar tercetak pertama dan dalam nomor perkenalannya dimuat ketentuan-ketentuan perjanjian antara Belanda dengan Sultan Makassar. 

Setelah surat kabar pertama kemudian terbitlah surat kabar yang diusahakan oleh pemilik percetakan-percetakan di beberapa tempat di Jawa.

Pada masa pendudukan Jepang, suratkabar Indonesia yang semula berusaha dan berdiri sendiri dipaksa bergabung menjadi satu.

Pada masa revolusi, sebelum Indonesia merdeka, bermunculan suratkabar dan majalah sebagai media perjuangan.

Semboyan “Sekali Merdeka Tetap Merdeka” menjadi pegangan teguh bagi para wartawan Indonesia masa itu. 

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo adalah perintis Pers Nasional Indonesia dan tokoh kebangkitan Nasional Indonesia. Ia juga dianggap sebagai orang yang paling berjasa atas bangkitnya pergerakan kaum terdidik di Indonesia. 

Meskipun lahir di daerah Blora, Jawa Barat, namun Tirto lebih lama tinggal di wilayah Bandung, Jawa Barat. 

Sejak usia muda, ia rajin mengirimkan tulisan-tulisannya ke sejumlah surat kabar dalam bahasa Belanda dan Jawa. Ia juga pernah membantu Chabar hindia Olanda pimpinan Alex Regensburgh selama dua tahun sebelum pindah menjadi redaktur Pembrita Betawi, Pimpinan F. Wriggers, yang tak lama kemudian digantikannya.

Menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) serta Putri Hindia (1908). Medan Prijaji beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK).

Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh proses produksi dan penerbitannya ditangani pribumi Indonesia asli.*

Jurnalistik Praktis

NAMA blog ini, Jurnalistik Praktis, diambil dari judul buku Jurnalistik Praktis untuk Pemula yang ditulis praktisi media Asep Syamsul M. Romli.

Diterbikan Penerbit PT Remaja Rosdakarya sejak 1999, buku panduan kewartawanan dan kepenulisan bagi pemula ini sudah mengalami cetak ulang beberapa kali.

Isinya seputar dunia jurnalistik, mulai dari sejarah, pengertian, jenis-jenis jurnalistik, jenis-jenis tulisan jurnalistik, teknik menulis berita, bahasa jurnalistik, hingga kode etik jurnalistik.

Jurnalistik Praktis untuk Pemula Buku Karya Asep Syamsul M. Romli


Buku ini memiliki banyak kelebihan yaitu mampu memberikan informasi yang bermanfaat tentang jurnalistik secara jelas dan singkat dan bahasanya tidak bertele tele, ukuran font yang relatif besar, ukuran buku yang mudah untuk dibawa kemana mana karena ukuiran buku tidak terlalu besar dominan seperti hand book, kata kata dalam buku mudah untuk dipahami, menyampaian materi ditulis dengan sangat mudah di pahami karena bukan semua berbentuk paragraph lebih dominan tertulis seperti point point, jumlah halaman yang tidak terlau banyak membuat pembaca ingin cepat cepet menyelesaikanya, dengan membaca buku ini bisa langsung memdapat point point penting tentang jurnal, yang terpenting yaitu covernya yang menarik, dan yang terpenting buku ini menyiapkan tips tips yang menarik dan membuat pembaca untuk mencobanya.