Thursday, November 14, 2013

Bahasa Jurnalistik

bahasa jurnalistik berita
Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang biasa digunakan oleh wartawan dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik memiliki karakteristik atau ciri hemat kata, lugas, sederhana, dan mudah dipahami. Ulasan: P. Hasudungan Sirait.

Gaya Bahasa Jurnalistik
Berbedakah ragam bahasa jurnalisme dengan ragam bahasa lainnya seperti ragam bahasa filsafat, bahasa  hukum, bahasa sastra,  atau bahasa ilmiah? Kalau sama belaka mengapa ada penamaan khusus? Sedangkan bila berbeda, dalam hal apa saja?

Bahasa apa pun itu hakekatnya sama. Apakah itu bahasa asing, bahasa lokal,  bahasa kelompok profesi, bahasa isyarat atau kode atau bahasa gambar,  makna keberadaannya adalah sebagai alat atau jembatan komunikasi. Orang menggunakan bahasa dengan satu tujuan yang pasti yakni supaya bisa berhubungan satu sama lain dengan baik. Artinya, saling memahami isi pikiran atau hati. Agar hal itu terjadi syaratnya adalah  pemaknaan yang sama terhadap setiap kata atau isyarat di antara mereka. Kalau lapar ya diartikan lapar, bukan kasmaran.

Kalau hakekatnya sama lantas apa yang membedakan ragam bahasa yang satu dengan yang lain?   Tiada lain ialah khazanah kata atau isyarat yang digunakan. Satu lagi, gaya yang dipakai. Logat tercakup dalam gaya. Supaya terang mari kita bandingkan  ragam bahasa militer dengan ragam bahasa kedokteran yang dipakai orang Indonesia. Keduanya berbasiskan bahasa nasional kita; jadi khazanah kosa katanya secara umum sama. Bedanya lebih terletak pada gaya.

Bahasa militer kita sarat dengan singkatan. Sistem keamanan lingkungan dipendekkan menjadi ‘siskamling’. Pertahanan sipil menjadi  ‘hansip’. Pusat Pendidikan Kesehatan menjadi ‘Pusdikes’.

Pada masa Orde Baru, gaya menyingkat ala militer ini sempat menjadi mode di lembaga-lembaga negara. Kementerian Pendidikan pun termasuk. Suatu masa lembaga ini pernah bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang disingkat menjadi Depdikbud. Iramanya seperti dag-dig-dug saja….

Dari contoh tadi tampak, selain sarat akronim, bahasa militer cenderung kaku atau verbal. Terkaitkah itu dengan doktrin mereka dalam keseharian? Kemungkinan besar demikian. Agar lebih jelas, cermatilah slogan-slogan yang terpampang di pagar markas mereka atau di prapatan strategis di pusat kota. Contohnya, “Dalam rangka menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat, mari kita tegakkan Pancasila secara murni dan konsekuen” atau “Siliwangi adalah masyarakat Bogor, masyarakat Bogor adalah Siliwangi.”

Ketika menulis panjang—dalam format buku atau makalah, misalnya—orang militer suka menjabarkan dengan menggunakan pointer.  Menjadi kaku, tentunya. Selain karena pola pikir yang serva verbal, tampaknya ini  dipengaruhi oleh format sumpah mereka yang berbentuk poin-poin.  Sapta marga, misalnya.

Gaya bahasa kedokteran lain lagi. Cermatilah resep yang ditulis dokter. Singkat dan sarat bahasa asing (Latin).Tulisan tangannya sendiri, entah mengapa, sulit dibaca oleh orang yang bukan dokter atau apoteker. Tampaknya ini disengaja atas nama kerahasiaan bisnis. Gambaran yang lebih terang dari tulisan dokter bisa dilihat dalam buku, artikel atau makalah yang mereka tulis. Lazimnya, hemat kata dan serba teknis sehingga akan sulit dicerna kaum awam. Tentu ada juga dokter yang piawai menulis populer. Kartono Mohamad, Faisal Baraas, Hendrawan Nadesul, Naek L Tobing, Wimpie Pangkahila, atau Boyke, misalnya. Mereka memang kolumnis sehingga mau tidak mau harus mempopulerkan gaya. Merupakan kekecualian, mereka; seperti halnya TB Simatupang, AH Nasution, Hasnan Habib atau Sayidiman Suryohadiprodjo—mereka sudah almarhum—di lingkungan militer.  

Itu gaya bahasa militer dan kedokteran. Ragam bahasa Hukum berbeda lagi. Ciri khasnya, sarat dengan ayat dan pasal. Tidak langsung ke poin masalah. Istilah teknis berbahasa Belanda kerap dipakai.

Karakteristik Bahasa Jurnalistik
Lantas bagaimana dengan ragam bahasa jurnalistik; sepert apa gerangan cirinya? Di mana pun di belahan jagat ini ciri bahasa pers sama  yaitu sederhana, hemat,   lincah-dinamis, kreatif, serta logis.  Berikut adalah penjelasannya.

Sederhana
Kembali ke sejarah. Sebagai sosok yang lahir pertama, media cetak merupakan induk dari segala media massa.   Di lingkup ini koran menduduki posisi istimewa. Merupakan media cetak yang paling berkembang di seluruh dunia sekian lama, dengan sendirinya  suratkabar sekaligus menjadi laboratorium utama tempat produk-produk  jurnalisme dilahirkan, diuji, dan dikembangkan.  Jadi, wajar saja kalau terbitan ini merupakan peletak dasar sebagian besar aturan jurnalisme. Termasuk  gaya bahasa dan gaya tulisan.

Sejak masa rintisan ratusan tahun silam—terlebih sejak Johann Gutenberg mengembangkan mesin cetak tahun 1440-an di Mainz, Jerman—para pengelola koran di mana pun terobsesi agar produknya bisa segera sampai ke tangan pembaca dan sajian tersebut dapat dinikmati selekasnya. Yang pertama ini soal cara distribusi dan yang kedua ihwal gaya sajian.  Sebagai orang redaksi, yang perlu kita bahas dalam tulisan ini gaya sajian saja.

Terkait dengan gaya sajian, para jurnalis mengembangkan berbagai model tulisan. Salah satunya adalah berita langsung (straight news). Sekali mengenal model ini biasanya awak redaksi koran akan merasa  seperti berjodoh. Klop betul. Praktis, itu alasannya. Strukturnya sederhana dan menuls mengikuti pola bakunya (template) tidak susah.

Berstruktur piramida terbalik, prinsip berita langsung adalah utamakan yang terpenting. Meminjam istilah Stephen R. Covey  (dalam The 7 Habits of Highly Effective People) yang muncul ratusan tahun kemudian, first thing first.  Berita langsung kemudian disebut juga berita keras (hard news) sebab mengedepankan fakta-fakta keras. Gaya tuturannya lempang, tidak meliuk-liuk. Prinsipnya: di bagian pembuka yang tak lebih dari 36 kata—kalau dalam bahas Indonesia—itu tampilkanlah inti informasi (apa, siapa, kapan, dan dimana).  Kalau  mungkin masukkan juga mengapa. Bila tidak,  letakkanlah di tubuh berita bersama unsur how (bagaimana). Adapun tubuh berita berisi penjelasan pembuka tadi.

Bagi mereka yang bertugas menyunting berita (editor) model berita langsung ini juga memudahkan pekerjaan. Kalau berita lebih panjang dari kapling, tinggal penggal saja bagian bawah.   Asal bukan  kepalanya, tidak merupakan perkara besar kalau tulisan diamputasi.

Kepraktisan berita langsung semakin di rasakan para jurnalis ketika mereka bisa memanfaatkan teknologi terdepan dalam pengiriman berita saat itu, yakni telegraf [telegraf elektronik dipatenkan  Samuel F.B Morse tahun 1837 di AS. Bedanya dari yang lain alat ini  menggunakan kode Morse]. Kendati pengiriman bermasalah, misalnya bagian tengah ke bawah terpotong, si pengirim masih bisa bernafas lega. Asal jangan lead-nya yang terpenggal. Bila kepala berita selamat, redaktur di kantor masih bisa mengembangkannya nanti dengan menggunakan ‘ilmu tafsir’ dan mengkompilasi bahan terkait sebelumnya.

Ketika mesin faksimili kemudian menjadi andalan dalam pengiriman berita—mesin ini banyak dipakai sejak dekade 1970-an—kepraktisan straight news masih dirasakan para jurnalis. Begitupun ketika zaman komputer tiba di mana wartawan menulis berita di perangkat kecil seperti laptop, handphone pintar, atau Ipad serta mengirimkannya lewat internet. Sekali lagi, kesederhaan model berita langsunglah yang menjadi alasannya.  Dari segi bahasa, cirinya adalah serba efisien. Mengedepankan hal terpenting, langsung ke poin utama tanpa meliuk-liuk. Efisiensi dan efektivitas menjadi kata kuncinya.

Gaya sajian berita media massa bertambah setelah kehadiran media cetak bukan harian. Majalah terutama. Sebagai media yang periode terbitnya lebih dari sehari (umumnya mingguan) majalah tidak menggunakan gaya berita langsung lagi. Agar sajiannya tidak basi,  mereka memang harus menerapkan strategi yang berbeda. Menukik ke kedalaman dan menjangkau keluasan wilayah berita itu yang harus mereka lakukan agar selamat dalam pertarungan dengan harian. Dengan kandungan sajian seperti ini tentu saja gaya sajian straight news tak pas untuk mereka. Yang lebih cocok adalah gaya bercerita (feature). Kalau dikawinkan dengan gaya bedah masalah (analisis) akan lebih mantap.

Dari segi bahasa, feature agak lain dibanding straight news. Kendati sama-sama menggarisbawahi efisiensi dan efektivitas, bahasa feature lebih luwes.  Ya, namanya juga perkisahan. Pilihan katanya lebih hidup dan sastrawi. Kaplingnya yang lebih panjang memungkinkan penggambaran (deskripsi) dan adegan—termasuk percakapan yang dipenggal—termaktub di sana. Kalau bahasa berita langsung cenderung mekanistis, bahasa feature dinamis karena harus membangun suasana.

Seperti halnya koran, majalah dan tabloid yang muncul kemudian, tetap meggarisbwahi kesederhanaan dalam gaya dan isi sajian. Termasuk alur cerita, teknik perkisahan, serta pilihan bahasa. Tanpa mengorbankan bobot, tentu saja. Ihwal dasar pikiran kesederhaan bahasa, berikut ini catatannya.

Koran sejak awal merupakan bacaan seluruh lapisan masyarakat . Tak masalah apakah perempuan, lelaki, tua, muda, berpendidikan atau tidak, orang kota atau warga kampung. Dalam sebutan anak muda sekarang, all in one. Artinya semua kasta merupakan pembaca koran yang sama. Konsekuensinya adalah sajiannya harus mudah dicerna oleh siapa pun terlepas dari latar belakang usia, pendidikan, serta yang lain. Ini terkait dengan cara menjelaskan dan menuliskan. Prinsipnya, seberat dan serumit apa pun pokok bahasa, terjemahkanlah sedemikian rupa sehingga menjadi mudah dicerna oleh siapa saja. Sebutan lainnya adalah: buatlah menjadi gamblang tanpa mengorbankan kandungan informasi. Katakanlah laporan tentang penemuan partikel Tuhan  (Higgs Boson) oleh tim peneliti CERN (European Organization for Nuclear Research)  di Jenewa, Swiss, Juli 2012. Penjelasan ilmiah ihwal partikel yang dianggap sebagai pemicu awal gerak berantai energi atom di alam semesta ini  pastilah rumit betul. Para ahli pun masih simpang siur saat memaknainya. Begitupun, jurnalis yang mewartakannya harus bisa menerangkannya secara sederhana dan gamblang. Caranya, misalnya, dengan menggunakan analogi yang akrab bagi kaum awam. Sebisa mungkin kita minimalkan penggunaan peristilah berikut rumus fisika yang serba teknis.

Simplify! Simpliy! (Sederhanakanlah! Sederhanakanlah!) Ini salah satu anjuran klasik dalam dunia jurnalisme. Bagaimana caranya? Yang pertama tentunya,  kita harus mengerti betul duduk perkara yang akan kita wartakan.   Dengan begitu niscaya kita akan bisa menguraikan pokok bahasan dengan  jernih. Hubungan sebab-akibat (kausalitas)  menjadi jelas. Langkah berikutnya adalah menuangkannya dalam tulisan yang mudah dimengerti oleh siapa saja.  Yang kita perlukan untuk itu adalah struktur, paragraf, kalimat dan kata yang serba sederhana. Struktur terdiri dari judul, pembuka (lead), tubuh dan penutup. Buatlah struktur yang tidak njlimet (istilah anak muda sekarang: ribet)  dan berlekuk-lekuk. Caranya, ikuti prinsip yang baku. Katakanlah laporan kita dalam bentuk straight news. Judul singkat, padat dan  merupakan cerminan dari inti informasi. Lead  [disebut juga teras] berisi satu paragraf yang merupakan pemadatan inti informasi. Ibarat manusia, judul dan lead merupakan anak dan ibu kandung. Adapun penutup, dimana pun bisa dalam straight news, asal masih di bawah teras.

Bagaimana dengan kesederhanaan kata, kalimat, dan paragraf?  Mari kita mulai  dengan melihat hubungan ketiganya. Kata membangun kalimat;  kalimat membentuk paragraf. Kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata ganti, kata depan, kata sambung, kata sandang, dan partikel (lah, kah), itu antara lain jenis kata. Kalau dari strukturnya kita mengenal, antara lain,  kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, serta kata majemuk.

Kata merupakan unsur bahasa yang paling sederhana strukturnya. Kita tentu akrab dengan kata sebab setiap jam menggunakannya. Jadi tak perlu dibahas lebih panjang lagi. Kalimat dan paragraf lebih mendesak untuk dibicarakan.

Sejumlah kata membangun satu kalimat. Subjek dan predikat minimal harus ada dalam sebuah kalimat. Kalau ada objek dan keterangan,  itu akan lebih lengkap. Setiap kalimat mengandung makna yang jelas dan logis. Kalimat “Saya memakan kari kambing”, terang maknanya dan logis. Sedangkan “Kari kambing memakan saya” jelas artinya tapi tidak logis.

Kalimat banyak ragamnya, di antaranya, kalimat berita dan perintah. Sejumlah kalimat membangun sebuah pragraf.   Kandungan alinea bisa aneka. Inti masalah, penjelasan tentang sesuatu,  contoh, ilustrasi, bukti, alasan, argumen, proses logis (penalaran), penggal perkisahan, gambaran, rincian,  hasil dari sebuah proses,  di antaranya. Yang pasti setiap paragraf hanya mengandung sebuah ide pokok saja.

Paragraf yang satu harus bertaut betul dengan yang berikutnya. Artinya, misalnya, alinea ke-5 ini merupakan penjelasan dari yang ke-4. Kalau tidak, salah satu dari yang berikut: uraian, penggalan ucapan untuk menegaskan alinea  ke-4, fakta penguat, landasan ilmiah, atau peranjakan ke suasana baru.

Kunci dari kesederhaan ragam bahasa jurnalisme terletak pada kata dan kalimat. Hindarilah kata-kata yang susah diucapkan oleh khalayak sasaran. Juga kata yang asing, atau sudah tak lazim dipakai seperti: ‘ mengejawantahkan’ (=mewujudkan) atau ‘dalam rangka ‘ (= untuk). Sebaliknya, pakalilah kata yang akrab di telinga mereka. Gunakanlah kalimat yang pendek agar strukturnya simpel. Kalimat yang panjang—dengan anak kalimat atau bahkan cucu kalimat—cenderung   membuat paparan menjadi rumit dan berat.

Jurnalisme terus berkembang seturut  zaman. Setelah koran, yang muncul adalah majalah dan tabloid. Sumber berita masyarakat kian banyak. Ternyata, radio yang semula lebih berfokus pada sajian hiburan, belakangan ikut semakin serius merambah belantara berita. Sejak tahun 1970-an televisi pun melakukan hal yang sama di seluruh dunia. Pendatang baru yang sekaligus paling progresif di dunia berita  adalah media online. Dalam konnteks Indonesia, contoh yang paling fenomenal tidak lain dari Detik.com.  Sedangkan untuk radio, Elshinta.

Kecepatan penyampaian berita yang diidamkan para pengelola suratkabar di zaman baheula, kini dengan mudah bisa diwujudkan oleh awak radio berita, televisi dan media online. Mereka ini praktis tidak terkendala lagi manakala hendak siaran atau mewartakan secara live. Radio dan televisi misalnya. Breaking news, bisa mereka munculkan setiap saat. Bila tak mau  mengganggu jadwal acara, mereka bisa memakai jurus lain untuk menyampaikan informasi terbaru.  Radio bisa memanfaatkan cuap-cuap pembawa acaranya; sedangkan televisi dapat memanfaatkan running text.  Media online dapat lebih leluasa lagi dibanding keduanya. Sungguh kemajuan yang tak terperikan.

Seperti halnya koran, khalayak yang disasar media massa lainnya—radio, televisi dan media online—sama majemuknya. Sebab itu kesederhanaan penyampaian menjadi keniscayaan bagi mereka juga. Prinsip awak suratkabar berlaku untuk mereka, termasuk dalam berbahasa jurnalistik.  Berikut ini keterangan ihwal prinsip berbahasa dimaksud.

Jelas
Pengertian ‘jelas’ dalam konteks kata-kalimat-paragraf, artinya tidak mengambang atau membingungkan akibat multi-tafsir. ‘Tak seberapa’, ‘begitulah’, ‘tak banyak’, ‘lumayan’, ‘atau ‘bisa ya bisa tidak’ merupakan contoh  kata yang bisa ditafsirkan macam-macam. Dalam bahasa jurnalisme makna yang tersirat sebaiknya kita hindari agar serba benderang. Jalankanlah selalu prinsip: enyahkan kata atau kalimat berkabut!

Terkait dengan struktur kalimat, perhatikanlah agar subjek, predikat, objek dan keterangan  pasti kedudukannya dan tidak rancu. Mana yang menerangkan yang mana haruslah jelas.  Satu hal lagi yang perli kita ingat: bahasa Indonesia kita menggunakan struktur diterangkan-menerangkan (DM). ‘Mobil merah’, bukan ‘merah mobil’. ‘Mawar mekar’, bukan ‘mekar mawar’.

Alur pun harus jelas agar tak membingungkan atau menyesatkan khalayak. Terlepas alur apa pun yang kita pilih—kronologis; kilas balik;  spasial: menjelaskan bagian per bagian;  masalah dan penyelesaian masalah; atau campuran alias kombinasi. Setiap jalan cerita—5W+1H—harus jelas.

Hemat
Kapling atau durasi media massa apa pun pasti terbatas. Sebab itu harus kita manfaatkan seefisien mungkin. Caranya, hindari kemubaziran. Inilah yang disebut prinsip ekonomi kata. Ini berlaku untuk reportase yang akan dituangkan dalam gaya apa pun (straight news, feature, soft news, news analysis, atau refleksi).

Tanpa mengubah makna, buanglah kata yang tak perlu. Berikut ini contohnya.
Memberikan
Memberikan pertolongan = menolong; memberi bantuan = membantu; memberikan kepercayaan= memercayakan; memberikan nasihat + menasihati; memberikan pengarahan = mengarahkan, memberi gambaran = menggambarkan; ………..

Melakukan
Melakukan pemerkosaan = memerkosa; melakukan pemeriksaan = memeriksa; melakukan  inspeksi mendadak = menginspeksi mendadak; melakukan pembunuhan = membunuh; melakukan pencegahan = mencegah; melakukan perlawanan = melawan; melakukan kampanye = berkampanye; melakukan serah-terima = berserah-terima; melakukan pembaruan=memperbarui;…..

Mengajukan
Mengajukan permintaan = meminta; mengajukan permohonan = memohon, mengajukan gugatan = menggugat; mengajukan penawaran = menawar; mengajukan banding = naik banding; …..

Sejumlah, sebanyak, seberat
Kecuali di awal kalimat, kata ‘sejumlah’ dan ‘sebanyak’ bisa kita hilangkan. Contoh:

Sejumlah 20 ekor = 20 ekor; sebanyak 10 rumah = 10 rumah;  sejumlah 3 cangkir kopi = 3 cangkir kopi, sejumlah 25 pegawai= 25 pegawai; sebanyak  200 gerilyawan = 200 gerilyawan; seberat 20 kilo= 20 kilo; seberat 3 ton= 3 ton;  ….

Hari
Hari Kamis = Kamis, Hari Senin = Senin; ……..

Bulan
Bulan Desember = Desember; bulan Maret = Maret;……..

Lincah-dinamis
Selain serba jelas dan hemat, penggunakan kalimat aktif dan pilihan kata atau istilah yang segar (bukan yang penat) membuat bahasa jurnalisme menjadi lincah dan dinamis.   Berbeda dari bahasa militer atau hukum yang cenderung verbal tadi.

Kreatif
Jurnalis merupakan ujung tombak informasi. Berada di aras depan, dengan sendirinya kelompok profesi ini menjadi peka betul terhadap perubahan di tengah masyarakat. Perubahan dalam hal apa pun termasuk gaya berbahasa. Kaum mudalah pelaku utama dalam eksperimen gaya bahasa.

Menangkap semangat zaman dalam berbahasa, tak pelak lagi kita sebagai pewarta akan terus dinamis dalam menyajikan karya jurnalisme. Unsur-unsur baru kebahasaan secara sengaja akan kita resapkan di sana.  Semangat zaman jualah yang akan menentukan apakah unsur baru tersebut akan langgeng atau hidup semusim saja. Pada suatu masa, misalnya, kata ‘kece’ dan ‘memble’ bertabur di media massa. Kini kita hampir melupakannya sama sekali keduanya. Kini kita akrab dengan kata ‘keren’, ‘gue banget’, ‘banget-banget’, ‘nge-twit’,  ‘BBM-an’ atau ‘up-date status’.  Sangat mungkin yang sedang in  betul ini pun tak lama lagi akan digantikan oleh yang baru. Media massa, dengan segala kreativitasnya,  selalu siap menyahuti dinamika kebahasaan ini.  

Logis
Ini terkait betul dengan prinsip sederhana dan jelas tadi. Bahasa jurnalisme harus lempang kalau dilihat dari kacamata penalaran. Artinya strukturnya (subyek, predikat, obyek, keterangan) tidak rancu. Yang mana diterangkan oleh yang mana (ingat hukum DM) harus terang. Lantas cara penyimpulan juga [induktif atau deduktif] harus tepat.

Berikut ini contoh kekeliruan sejumlah jurnalis tatkala menggunakan logika bahasa.

Contoh 1.
“….Dalam pemeriksaan tak menutup kemungkinan penambahan jumlah terangka.”

Catatan:
Subjeknya seolah adalah pemeriksaan. Apakah pemeriksaan mahluk hidup sehingga bisa menutup atau tidak menutup kemungkinan?   Kalimat ini rancu. Yang benar adalah: “….Dalam pemeriksaan tak tertutup kemungkinan jumlah tersangka bertambah.”  

Contoh 2.
“……Dari bukti ini memperkuat dugaan bahwa tersangka telah berbohong di hadapan majelis hakim.”

Catatan:
Yang mana sebenarnya yang memperkut: dari bukti-kah atau bukti? Tentu saja bukti. Jadi, kata ‘dari’ harus kita buang.

Contoh 3.
“Nama Alicia Keys (20) kini sedang menjadi anak kesayangan orang industri musik pop Amerika. Ia disebut sebagai penyanyi R&B pendatang baru palng sensasional.”

Catatan
Siapa sesungguhnya yang menjadi anak kesayangan: nama  Alicia Keys-kah atau  Alicia Keys? Tentu saja orangnya, bukan namanya. Kata ‘nama’ membuat kalimat rancu.

Contoh 4.
“ Alicia Keys sedang dimanja, sementara nama-nama seperti Mariah Carey atau Whitney Houston seperti akan terlupakan.”

Catatan:
Kalau membandingkan seharusnya yang sepadan. Bahasa kerannya: apple to apple. Harusnya Alicia Keys dikomparasikan dengan Mariah Carey dan Whitney Houston, bukan dengan nama-nama seperti   Mariah Carey, atau Whitney Houston.

Di media massa kita kesalahan logika bertebar. Penyebabnya adalah penalaran yang tidak lempang. Sangat mungkin si pembuat kesalahan tidak menyadari kekeliruannya. Buktinya perulangan terus terjadi.*

0 comments

Post a Comment

Komentar spam yang menyertakan link aktif tidak akan muncul